Kamboja – Muhammad Azizi, Mahasantri Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), saat ini tengah menjalani pengabdian purnastudi di Kamboja, tepatnya di Musa-Asiah Integrated School SEPAMA, Krouch Chhmar, Kamboja. Program pengabdian ini merupakan bagian dari misi akademik dan dakwah Pondok Shabran UMS dalam mencetak kader yang memiliki kompetensi global dalam menyebarkan nilai-nilai Islam serta berkontribusi dalam berbagai sektor pendidikan dan sosial.
Selama bulan Ramadhan, Azizi aktif berbagi pengalaman mengenai dinamika kehidupan Muslim di Kamboja, termasuk tantangan yang dihadapi sebagai minoritas di tengah masyarakat yang mayoritas beragama non-Islam. Pengalaman ini memberikan wawasan mendalam mengenai kondisi dakwah di luar negeri serta strategi yang diperlukan dalam membangun komunitas Muslim yang kuat dan mandiri.

Sebagai bagian dari tugasnya, Azizi berperan dalam proses pengajaran di sekolah, dengan fokus pada pendidikan agama Islam, pengajaran Al-Qur’an, serta dasar-dasar bahasa Indonesia. Selain itu, ia juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, dengan memberikan pendidikan agama kepada komunitas sekitar, termasuk kepada para lansia dan ibu-ibu di lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman keislaman di tengah komunitas Muslim setempat sekaligus membangun koneksi sosial yang lebih erat.
Selain berkontribusi dalam bidang pendidikan, Azizi juga terlibat dalam berbagai kegiatan khas Ramadhan, seperti shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, serta berbuka puasa bersama dengan siswa dan masyarakat lokal. Momen yang paling berkesan baginya adalah ketika ia mengikuti acara buka puasa bersama dengan anak-anak sekolah pada Jumat, 21 Maret 2025, di mana ia melihat langsung bagaimana semangat keislaman tetap terjaga meskipun dalam kondisi sebagai minoritas.


Azizi mengungkapkan bahwa berpuasa dan menjalankan ibadah Ramadhan di lingkungan yang berbeda memberikan pengalaman spiritual yang mendalam. Ia merasa bahwa tantangan yang dihadapi justru memperkuat keyakinannya serta memperluas pemahamannya tentang bagaimana Islam dapat berkembang dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Ia juga mengungkapkan rasa haru atas semangat keislaman komunitas Muslim di Kamboja, yang tetap teguh dalam menjalankan ajaran Islam di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan sosial.
Direktur Pondok Shabran UMS, Ustadz Nur Rizqi Febriandika, S.Sy., M.B.A., M.SEI., turut mengapresiasi serta memberikan dukungan penuh kepada Azizi dalam menjalankan program pengabdiannya. Menurutnya, pengalaman ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang sangat berharga bagi Mahasantri dalam mengasah keterampilan dakwah, memperluas wawasan keislaman, serta memahami realitas Muslim di berbagai belahan dunia.
Program pengabdian ini menjadi manifestasi nyata dari komitmen Pondok Shabran UMS dalam membentuk generasi ulama intelektual yang siap berkontribusi di tingkat global. Melalui pengalaman ini, Mahasantri tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis tentang Islam, tetapi juga menerapkan ilmu yang diperoleh dalam konteks nyata, berinteraksi langsung dengan masyarakat, serta menghadapi tantangan dakwah yang sesungguhnya.
-ME


