Bekali Mahasantrinya Bahasa Inggris, Pondok Shabran UMS gelar English Course

SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan kegiatan English Course yang berlangsung selama dua pekan, mulai 20 Januari hingga 1 Februari 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang seminar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran dengan menghadirkan penerima beasiswa LPDP sekaligus mahasiswa S3 Universitas Queensland sebagai pemateri.

Satria Adi Pradana, selaku pemateri dalam kegiatan ini, menyampaikan bahwa English Course ini dirancang untuk memberikan pemahaman dasar mengenai TOEFL. Selain itu, ia juga menjelaskan metode pembelajaran yang diterapkan selama pelatihan.

“Metodenya student-centered untuk drilling exercise dan teacher-centered untuk enrichment,” ujar Satria pada Sabtu (01/2/2025).

Lebih lanjut, Satria menambahkan bahwa kegiatan ini ditujukan untuk para santri pilihan Pondok Shabran UMS dengan harapan mereka mampu memahami pentingnya bahasa Inggris dalam menghadapi dunia global. Dengan demikian, mereka akan terus berlatih dan menempa diri agar siap menghadapi tuntutan zaman di masa depan. Ia juga mengungkapkan tantangan serta solusi yang dihadapinya selama kegiatan berlangsung.

Pembelajaran – Para Mahasantri Pondok Shabran UMS mengikuti kegiatan English Course. Kegiatan ini diadakan di Ruang Seminar Pondok Shabran UMS, Jum’at (31/01/2025)

“Bertemu dengan peserta didik yang memiliki kemampuan dan level yang berbeda membuat saya harus merancang pembelajaran dasar untuk menyelaraskan pemahaman mereka,” pungkasnya.

Nurul Fahri Friyanda, salah satu peserta kegiatan ini, mengungkapkan bahwa ia merasa senang dan semakin termotivasi untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Hal ini tidak lepas dari kisah inspiratif yang dibagikan oleh Satria Adi Pradana mengenai perjuangannya meraih beasiswa LPDP di Universitas Queensland.

“Materi yang disampaikan membuka wawasan saya, dan cerita perjuangan Mr. Satria benar-benar memberi semangat saya untuk mengejar kesempatan studi di luar negeri,” ungkapnya, Sabtu (1/2/2025).

Selain itu, Fahri juga mengungkapkan kendala yang ia hadapi selama dua minggu pelatihan. Ia menyebutkan bahwa keterbatasan kosakata bahasa Inggris menjadi tantangan utama yang membuatnya kesulitan dalam memahami materi secara mendalam. Ia merasa perlu lebih banyak waktu dan latihan untuk memperkaya kosakata serta meningkatkan pemahaman terhadap struktur bahasa, terutama dalam menerapkan tenses dengan benar.

“Dua minggu saya rasa belum cukup untuk menjadi mahir berbahasa Inggris dan meraih skor TOEFL di atas 500, apalagi saya masih minim kosakata dan belum menguasai tenses dengan baik,” Jelasanya.

 

-Nashiruddin Amin & Muhammad Zein