|
Guliran Waktu
Semua peredaran dan pergerakan planet di alam raya ini dalam kendali Allah. Matahari, bulan, dan bumi beredar menurut ketetapanNya, menjadi salah satu tanda kekuasanNya. Dari peredaran benda ciptaanNya manusia bisa mengetahui waktu, menghitung hari, minggu, bulan, dan tahun.
Mu’ad Bin Jabal bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Nabi, mengapa bulan bermula kecil (bulan sabit) kemudian membesar hingga purnama, lalu dari malam ke malam mengecil lagi dan hilang dari pandangan mata?” Nabi terdiam, dan Alquran menjawab: “Katakanlah (Hai Muhammad) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (waktu untuk) haji” (QS. Al-Baqarah/2: 189).
Digulirkannya siang dan malam juga menjadi tanda kebesaran Allah supaya manusia mengambil manfaat dari keduanya. Siang untuk bekerja, mengais rizki, mencari penghidupan, dan malam untuk beristirahat.
Waktu yang tersedia bagi manusia pada dasarnya sama. Yang membedakan adalah perlakuan setiap manusia terhadap waktu yang disediakan itu. Bagi orang-orang yang tidak beriman, pergantian siang dan malam, peredaran bulan dan bumi, tidak lain kecuali hanya permainan tanpa tujuan, melakukan aktivitas yang melalaikan, menumpuk-numpuk harta untuk berbangga diri (QS. Al-Hadid/57: 20).
Sementara bagi orang yang beriman peredaran waktu merupakan isyarat supaya manusia mengambil pelajaran dan menghitung atas apa yang telah dan yang akan dilakukan. Dari perhitungan itu akan diketahui betapa banyak kesempatan dan nikmat yang diberikan oleh Allah sehingga membawanya pada sikap selalu bersyukur (QS. Al-Furqan/25: 62).
Waktu tidak boleh disia-siakan bergulir begitu saja. Tidak dibenarkan perjalanan hidup ini diserahkan kepada sang waktu tanpa diikuti sikap memperbaiki diri. Setiap gulirannya harus diisi dengan aktivitas yang bermanfaat. Ali Bin Abi Thalib pernah berkata: “Rizki yang luput dari anda hari ini masih ada harapan anda peroleh hari esok, tetapi waktu yang berlalu saat ini mustahil ia akan kembali lagi“.
Guliran waktu terus merambat dalam pergantian hari, minggu, bulan, dan tahun. Pergantian tahun sering kali dijadikan penanda sukses tidaknya perjalanan setelah melalui proses evaluasi, introspeksi dan koreksi atas semua kinerja. Selanjutnya pergantian tahun juga menjadi momentum perencanan progres dan target di tahun berikutnya.
Bila evaluasi dan perencenaan itu dilaksanakan dengan sungguh tentu akan mendatangkan hasil yang bermanfaat dan menguntungkan. Namun yang sering dijumpai, jelang pergantian tahun lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang melalaikan dan berhura-hura. Banyak instansi di akhir tahun hanya melihat seberapa besar anggaran yang masih tersisa dan bagaimana cara menghabiskannya.
Mestinya, pergantian tahun dan setiap guliran waktu mengingatkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan manusia akan kembali kepada dirinya. Lembaran-lembaran yang terisi oleh amal baik dan buruk dalam waktu yang dilalui akan ditunjukkan kembali, sebagaimana fimanNya: “Bacalah kitabmu (catatan amalmu), cukuplah kamu sendiri hari ini yang melakukan perhitungan atas dirimu” (QS. Al-Isra’/17: 14).
Mutohharun Jinan Pengajar Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta
(Sumber: SOLOPOS, 31 Desember 2011) |